Sat 25 Safar 1448AH 8-8-2026AD

ALVINBURHANI.NET

MUHAMMAD BURHANUDDIN BLOGSITE

Menjemput Panggilan yang Dimajukan

Views: 4
1 0
Read Time:3 Minute, 59 Second

Ada rencana yang kita susun rapi, dan ada rencana Allah yang jauh lebih baik. Kisah keberangkatan haji kami adalah salah satu bukti kecilnya.

Awalnya kami dijadwalkan berangkat pada tahun 2025. Lalu pandemi Covid datang dan mengubah segalanya yaitu antrean bergeser, jadwal mundur, dan nama kami tercatat untuk keberangkatan tahun 2027. Dua tahun tambahan yang terasa panjang, tapi kami coba jalani dengan sabar.

Sampai kemudian, di penghujung tahun 2025, datang kabar yang tidak kami duga. Ada penambahan kuota dari pemerintah, dan bagi yang pendaftarannya masuk maka terbuka kesempatan untuk berangkat di tahun 2026. Satu tahun lebih cepat dari perkiraan.

Saya masih ingat rasanya membaca informasi itu. Antara tidak percaya, dan langsung teringat bahwa panggilan ini memang bukan soal antrean. Ini soal siapa yang dipanggil.

Melepas untuk Menggenggam

Kebetulan,  “kalau memang ada yang namanya kebetulan” – situasi saya di perusahaan tempat saya bekerja saat itu sedang kurang cocok. Rasanya menjadi beban dan mungkin rizki  saya cukup sampai disini saja. Maka… ketika kabar keberangkatan itu datang, saya mengambil keputusan yang bagi sebagian orang mungkin terdengar agak aneh: mengajukan resign tiba tiba setelah dipanggil meeting. Alasan saya sederhana, yakni agar bisa fokus mempersiapkan diri untuk haji. Untungnya lagi, seharusnya saya dapat 1 bulan notice ternyata langsung di-approve tanpa harus menunggu waktu lebih lama lagi.

Alhamdulillah, sebelum Idul Fitri saya sudah resmi keluar. Tidak ada lagi target pekerjaan, tidak ada lagi pikiran yang terbagi. Yang ada hanya satu fokus: mempersiapkan diri, lahir dan batin, untuk memenuhi undangan-Nya.

Soal rezeki? Itu urusan Allah. Saya memilih untuk percaya pada kalimat itu sepenuh hati dan Allah tidak pernah mengecewakan orang yang bersandar kepada-Nya.

Persiapan Demi Persiapan

Hari-hari setelah itu terisi dengan hal-hal yang sebelumnya setiap hari harus berangkat ke kantor, sekarang ada banyak waktu guna mengikuti bimbingan manasik haji, belajar ulang tata cara ibadah yang selama ini hanya dihafal sepintas, memahami rukun dan wajib haji, sampai menghafal dan menulis doa-doa.

Belum lagi ada rangkaian pemeriksaan kesehatan yang harus dilalui. Latihan berjalan jauh yang sebelumnya tidak pernah kita kerjakan. Satu per satu tahapan dijalani, dengan doa yang sama setiap kali: yaitu “semoga dimudahkan”.

Dan puncak dari masa penantian itu adalah ketika visa haji akhirnya keluar. Setelah menunggu cukup panjang, dengan segala rasa was-was yang menemani, kabar itu datang. Sulit menggambarkan rasa lega dan bahagianya. Rasanya seperti mendapat kepastian bahwa undangan itu benar-benar untuk kami.

Berangkat

Tanggal 10 Mei 2026, kami berangkat. Saya dan istri saya. Masuk Gelombang kedua, dari Bandara Soeakarno Hatta langsung ke Jeddah dengan Air Saudi. Masya Allah, begitu terharu saat sampai di Bandara Jeddah dengan menggunakan Ihram untuk langsung melaksanakan umrah wajib dan terus mengumandangkan talbiah.

Apapun yang terjadi disana – itu untuk Allah. Puncak haji, wukuf di Arafah, jatuh pada hari Selasa, 26 Mei 2026. Alhamdulillah selesai dengan lancar bersama kenangan indah yang tak terlupakan.

Tanggal 10 Juni 2026 kita berangkat ke Madinah, dimana lebih dari sebulan lamanya di Tanah Suci Mekkah dengan suasananya di daetah Misfalah, terminal Ajyad, suasana pagi, siang, sore, dan malam di pelataran Masjidil Haram dengan harumnya, makananya, buah buahannya, dan lain sebagainya.

Makkah yang Tak Bisa Ditinggalkan

Waktu di Makkah terasa begitu banyak, dan setiap detiknya berharga. Ada begitu banyak kesempatan untuk salat di Masjidil Haram, membaca Al Qur’an, memandang Ka’bah, tawaf, berdoa dengan air mata yang kadang jatuh tanpa diminta.

Justru karena waktu yang panjang itulah, ketika sampai di rumah, saya tidak bisa move on. Pikiran masih tertinggal di sana. Suara azan Masjidil Haram masih terngiang. Rasanya ingin kembali.

Madinah yang Menyisakan Rindu

Dan Madinah — ah, Madinah. Ibadah di sana terasa begitu syahdu. Ada ketenangan yang berbeda, kedamaian yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Salat di Masjid Nabawi, setiap pagi berziarah ke makam Rasullah SAW, menghirup udaranya, semuanya meninggalkan bekas yang dalam.

Sampai hari ini, rindu itu belum juga reda. Ingin sekali bisa kembali ke sana.

Akhirnya

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah, dari awal sampai akhir, semuanya berjalan lancar. Meski harus diakui, ini benar-benar perjalanan yang banyak jalan kakinya. Kaki melangkah entah berapa kilometer setiap harinya. Tapi anehnya, lelah itu terasa manis dan badan terasa sehat.

Dan yang paling saya syukuri dari semua ini: saya bisa menjalaninya bersama kekasih hati yang sudah lama menemani. Yang sudah bersama-sama melewati suka dan duka, pahit dan getirnya kehidupan. Saat itu, kami bisa berdiri berdampingan di Tanah Suci guna memenuhi panggilan Allah untuk menghadap-Nya. 50.000 tahun sebelum Langit dan Bumi diciptakan, kita bisa bersama bersujud dihadapan-Nya di tempat terindah di muka Bumi ini.

Semua itu terjadi karena Allah memudahkan segalanya. Bukan karena kami mampu, bukan karena kami siap – tapi karena Dia yang maha berkehendak.

Alhamdulillah

Bersyukur, sungguh bersyukur. Semoga Allah menerima ibadah haji kami, mengampuni segala kekurangan di dalamnya, dan menjadikannya haji yang mabrur.

Dan semoga, suatu hari nanti, Allah izinkan kami kembali ke sana. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

About Post Author

Muh. Burhanuddin

Industrial Engineer, Specialist in Heavy Cargo Transportation and Heavy Lifting Works. Hobby in computer programming, reading and writing. No occupation except waiting for a prayer time. Ready for working as a surveyor, transport planer, or as lifting engineer.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

More Stories

Be the first to write a review

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © ALVINBURHANI.NET All rights reserved. | Newsphere by AF themes.